A. Contoh Study Kasus dari Data Wei 3
Berikut ini adalah data yang ingin
dianalisis dengan ARIMA Box-Jenkis.
Series
W3 Blowfly data
1676
3075 3815 4639 4424 2784 5860 5781 4897 3920 3835 3618
3050
3772 3517 3350 3018 2625 2412 2221 2619 3203 2706 2717
2175
1628 2388 3677 3156 4272 3771 4955 5584 3891 3501 4436
4369
3394 3869 2922 1843 2837 4690 5119 5838 5389 4993 4446
4651
4243 4620 4849 3664 3016 2881 3821 4300 4168 5448 5477
8579
7533 6884 4127 5546 6316 6650 6304 4842 4352 3215 2652
2330
3123 3955 4494 4780 5753 5555 5712 4786 4066
Maka
sesuai dengan langkah-langkah yang sudah dijelaskan, berikut ini tahapan untuk
mendapatkan model peramalan dengan ARIMA.
1. Time
series Plot
Gambar
plot time series yang dihasilkan yaitu.

Gambar 1. Time Series Plot
2.
Pengujian
Stasioner
Cek stasioneritas
meliputi stasioneritas dalam mean dan varians. Terlebih dahulu dicek
stasioneritas varians dari Box-Cox plot.
Lalu cek stasioneritas mean secara visual dengan melihat plot ACF.
2.1
Pengujian
Stasioner Varians

Gambar 2. Plot Box Cox
Berdasarkan
Gambar 2 diketahui bahwa Lower dan Upper CL sudah melalui titik 1 (satu) sehingga
dapat dikatakan data memenuhi stasioner varians.
2.2
Pengujian
Stasioner Means
Secara visual cek stasioneritas mean dilihat
dari plot ACF yang dihasikan.

Gambar 3. Plot ACF
Berdasarkan Gambar 3 diketahui bahwa plot yang
dihasilkan turun cepat menuju nol sehingga dapat dikatakan data stasioner dalam
mean.
3. Estimasi Parameter
Berikut ini
adalah plot ACF dan PACF untuk menduga orde ARIMA.

Gambar 4.Plot PACF
Berdasarkan Gambar 3 dan 4 diduga bahwa modelnya
AR(1), MA(2), dan ARMA(1,1). Berikut ini
masing-masing estimasi parameter.
3.1 Model dugaan : AR(1)
Hipotesis
:
H0
: 
H1
: 
Tingkat
signifikan : 5% = 0,05
Statistik
Uji : 
Daerah Kritis : tolak H0
jika P-Value<α atau
>
Tabel 1. Tabel AR(1)
|
Berdasarkan Tabel 1. didapatkan nilai P-value pada AR (1) sebesar 0,000 dan
nilai constan sebesar 0,000. Karena nilai P-value
AR (1) <α yaitu 0,000<0,05 dan P-value
constan <α yaitu 0,000<0,05 maka
tolak H0,yang berarti parameter AR(1) signifikan terhadap model
sehingga model AR (1) dapat dibuat model
3.2 Model dugaan: MA(2)
Hipotesis
:
H0
: 
H1
: 
Tingkat
signifikan : 5%
Statistik
Uji : 
Daerah
Kritis : tolak H0 jika P-Value<α
atau
Tabel 2. Tabel MA(2)
|
Berdasarkan
Tabel 2. didapatkan nilai P-value
pada MA (1) sebesar 0,000 dan nilai MA(2) sebesar 0,000 serta constan sebesar
0,000. Karena nilai P-value MA(1),
MA(2) dan constan <α yaitu
0,000<0,05 maka tolak H0,yang berarti parameter MA(2) signifikan
terhadap model sehingga model MA(2) dapat dibuat model.
3.3 ARMA(1,1)
Hipotesis :
H0
: 
H1
: 
Tingkat signifikan : 5%
Statistik Uji : 
Daerah
Kritis : tolak H0 jika P-Value<α
atau
>
Tabel 3.
Tabel ARMA(1,1)
|
Berdasarkan Tabel 3. didapatkan
nilai P-value pada AR (1) sebesar
0,000 dan nilai MA(1) sebesar 0,399 serta constan sebesar 0,000. Karena nilai
P-value MA(1) >α yaitu 0,399 >
0,05 maka gagal tolak H0,yang berarti parameter MA(1) tidak
signifikan terhadap model ARMA (1,1). Maka MA (1) tidak dimasukkan dalam
persamaan model.
Berdasarkan
dilai MS yang dihasilkan dari ketika dugaan model AR (1), MA (2) dan ARMA (1,1)
nilai MS terkecil adalah nilai MS dari
ARMA(1,1)yaitu sebesar 799698. Namun
karena parameter MA(1) tidak signifikan terhadap model ARMA (1,1) maka model
yang terpilih adalah AR (1).
4. Pengujian Asumsi Whitenoise dan Distribusi
Normal
Hipotesis:
H0:
Residual white-noise (ρ = 0)
H1:
Residual tidak white noise (ρ≠0)
Taraf signifikan: α = 5%
Daerah
Kritis : Tolak H0 jika Q>X2α,k atau P-Value<α
Statistik
Uji : 
|
Berdasarkan Tabel 1.4 diperoleh nilai P-value pada lag 12 sebesar 0,839, nilai P-Value pada lag 24 sebesar 0,970, nilai
P-value pada lag 36 sebesar 0,825 dan
nilai P-Value pada lag 48 sebesar
0.962. Nilai P-value lag 12,24,36 dan
48 >α maka gagal tolak H0, yang berarti residual whitenoise.
Setelah diketahui bahwa data
memenuhi asumsi white-noise
(Independen dan Identik). Maka selanjutnya dilakukan pengujian kenormalan data
menggunakan pengujian Kolmogorov Smirnov
sebagai berikut.
Hipotesis:
H0 : Residual data berdistribusi normal
H1 : Residual data tidak berdistribusi normal
Taraf signifikan: α = 5%
Gambar 5. Plot Distribusi Normal

Dari Gambar 5. diketahui
nilai P-value > α yaitu sebesar
0,150> 0.05 maka gagal tolak H0 sehingga dapat disimpulkan bahwa
dengan uji kolmogorov smirnov,
residual data memenuhi asumsi distribusi normal.
5.
Forcasting Model
Model
dugaan terpilih adalah AR (1) atau ARIMA (1,0,0). Persamaan model ARIMAnya
adalah: Zt = Øat-1 + at = 0,7661 at-1 + at







0 komentar:
Posting Komentar